ISLAM AGAMA ILMU
Segala puji bagi Allah tuhan sekalian alam
yang telah memberikan kesehatan, iman dan islam hingga akhir zaman.
Sholawat serta salam semoga
senantiasa tercurahkan kepada junjungan alam Nabi besar Muhammad SAW,Kepada keluarga
beliau, para sahabat,tabi’in dan seluruh ummatnya yang setia hingga akhir zaman
.
HADIRIN YANG SAYA HORMATI
Sebagai agama paripurna,Islam memiliki
begitu banyak keistimewaan dan kesempurnaan. Di antaranya, Cira khas yang amat dominan
dalam ajaran islam; Islam merupakan
agama yang sangat menghormati dan
menghargai ilmu. Ilmu menempati
kedudukan yang amat tinggi dalam agama
kita.
Karna itu,Tidak mengherankan bila di dalam kitab suci kita,Al-Qur’an al-karim,terdapat
lebih dari 750 kata yang berakar dari al-‘ilm. Artinya,bahwa di didalam Al-Qur’an terdapat lebih 750 kata ilmu dengan berbagai turunannya.Seperti
‘alim, ‘ulama’,ya’lamuun, ta’lamuun,
dan sebagainya.Padahal jumlah surah dalam Al-Qur’an adalah 114 surah.
Bahkan ayat yang pertama kali yang Allah turunkan kepada nabi
kita yang mulia Nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk membaca; “Iqra” sebagai mana telah di maklumi
,membaca adalah salah satu sarana utama untuk mengumpulkan ilmu .Sebab itu,
tidak mengherankan bila ilmu menjadi prioritas pertama dan utama seorang
muslim yang harus ia penuhi dalam
kesehariannya.
Hadirin yang saya hormati
Begitu banyak cara agama kita dalam
memotivasi ummatnya untuk belajar ilmu. Terkadang dengan mengiming-imingkan
bahwa menuntut ilmu merupakan salah satu
jalan tercepat menuju ke surga.
Sebagai mana sabda Rasulullah SAW:
“Barang siapa yang meniti jalan
untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan untuknya jalan ke surga”(HR Muslim dari Abu Hurairah
RA)
Dikisahkan ada seorang kake yang
datang pada seorang ulama mengeluhkan keadaannya. Kata beliau,”saya rajim
menghadiri majelis ta’lim.Namun,Kendala terbesar yang saya hadapi,adalah ilmu
yang saya dapatkan terasa begitu cepat hilang.Seakan-akan ilmu yang saya
dapatkan selama puluhan tahun ini amatlah sedikit. Apakah lebih baik saya
tinggalkan masjlis-majlis ta’lim tersebut? Saya merasa manfaat yang saya
dapatkan tidak banyak!”
Setelah sejenak diam, sang ulama
menjawab,”kek,tidakah cukup manfaat yang telah di janjikan oleh Rasulullah
SAW?”
“Apa itu?”
“Janji kemudahan jalan ke surga
bagi mereka yang rajin menuntut ilmu agama!”
“Oohh... Cukup! Bahkan lebih dari
cukup! Bukankah surga adalah cita-cita tertinggi setiap insan ?” Maka setelah itu, si kakek pun semakin
rutin untuk menghadiri majlis ta’lim. Sebab, ia yakin betul bahwa itulah salah
satu jalan tercepat yang mengantarkannya menuju surga.
Hadirin yang saya hormati
Untuk memotivasi para manusia
mendalami ilmu agama, Allah ta’ala juga menjelaskan bahwa ilmu itu akan mengangkat derajat pemiliknya. Sebagai mana dalam
ayat:
Artinya: Niscaya Allah akan
meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu beberapa derajat.(QS Al-Mujadilah
58:11)
Derajat tinggi itu akan didapatkan
seorang hamba di dunia sebelum di akhirat. Banyak contoh realitas yang
membuktikan hal tersebut antara lain:
1.
Kisah Ibnuh Abzah rahimahullah
Suatu
hari,Nafi’ ibn Abdul Harist mendatangi
Amirulmukminin (Umar ibn
al-Khaththab RA) di daerah ‘usfan (pada saat itu, Umar tengah mempercayakan kepemimpinan Makkah
kepada nafi’).Umar bertanya,”siapa yang engkau jadikan penggantimu-sementera
waktu-bagi penduduk Makkah?”
Nafi’
menjawab, “Ibnu Abza.”Umar bertanya, “siapa Ibnu Abza?”Nafi’ menjawab:
Umar bertanya
kembali, “Engkau telah memberikan kepercayaan tersebut kepada seorang budak?” Nafi’ mengatakan:
“Sungguh budak
tersebut adalah seorang hafizh (penghafal) al-Qur’an dan sangat menguasai hukum-hukum
islam.”
Kemudian Umar
berkata :
“Sungguh Nabi
kalian telah berkata ,’sesungguhnya Allah mengangkat derajat sebagian manusia dengan al-Qur’an dan
merendahkan sebagian yang lain karenanya.’”(HR Muslim)
2.
Kisah ‘Atha’ibn Abi Rabah rahimahullah
Ibrahim
al-Harbi berkata: Seseorang bernama ‘Atha’ ibn Abi Rabah adalah budak berkulit
hitam, milik seorang wanita penduduk Makkah. Hidung ‘Atha’pesek seperti kacang (sangat kecil).
Suatu hari, Sulaiman ibn abdul malik,
sang Amirulmukminin , bersama kedua
anaknya mendatangi’Atha’ yang sedang salat. Setelah selesai dari
salatnya ,’Atha’ hendak menyambut mereka. Namun orang-orang yang berkerumunan
di sekeliling ‘Atha’ terus saja bertanya masalah agama kepada beliau tanpa henti sehingga
beliau tersibukkan dari menyambut sang
khalifah . Akhirnya Sulaiman mengajak
kedua putranya untuk pergi, lalu ia berpesan kepada keduanya:
“Wahai
anak-anakku, jangan kalian lalai dari menuntut ilmu. Sungguh aku tidak akan
lupa duduknya kita di hadapan seorang budak hitam (yang berilmu) ini.”
3.
Kisah Muhammad
ibn Abdurrahman al-Auqash
Dalam kisah
yang lain,Ibrahim al-Harbi berkata:Muhammad ibn Abdurrahman al-Ausqash adalah
seorang yang lehernya sangat pendek sampai masuk ke badannya sehingga ke dua
bahunya menonjol keluar. Dengan penuh perhatian dan kasih sayang, ibunya
berpesan:
“Wahai anakku,
sungguh kelak setiap kali engkau berada di sebuah majlis, engkau akan selalu
di tertawakan dan di rendahkan,
maka hendaklah engkau menuntut
ilmu karna ilmu akan mengangkat derajatmu”.
Ternyata (ia
mematuhi pesan ibunya, pen.) Sehingga pada suatu saat dipercaya menjadi hakim
agung di makkah selama duapukuh tahun.
Setiap ada
oarang yang berperkara duduk di hadapannya, selalu gemetar dengan kewibawaannya
hingga sidang selesai.
Ini hanyalah
ketinggian derajat di dunian. Adapun di akhirat kelak, maka jauh lebih
menggiurkan . Yakni kedudukan yang tinggi yakni di Surganya Allah
ta’ala.........
Hadirin yangberbahagia
Negeri cercinta kita mayaoritas muslim.
Namun, ilmu agama banyuak di abaikan oleh masyarakat. Majlis ta’lim sering
sepi, masyarakat berlomba-lomba membangun masjit yang besar dan megah, namun sepi dari pengunjung (hidup
enggan mati tak mau. Tapi sebaliknya,
konser musik selalu ramai berjubel di
penuhi para pengunjung.
Banyak orang tua yang merasa bangga saat
anaknya sukses dapat gelar sarjana di bidang umum, walaupun setelahnya
tidak sedikit yang menjadi pengangguran.
Namun,mereka tidak mendukung abila anaknya mengungkapkan untik masuk
pesantren guna mendalami ilmu agama. “Madesu (Masa depan suram)! begitu
alasannya.
Banyak orang tua rela mengeluarkan biaya
besar untuk biaya les ilmu-ilmu eksak, Namun enggan mendorong anaknya untuk
mengaji di TPQ, sekalipun tanpa di pungut biaya!
Kita harus waspada, bahwa di negeri tercinta,penggembosan
terhadap menuntut ilmu agama itu di
lakukan secara personal maupun masif dan terstruktur.Contoh yg amat kentara
yang bersipat tersetruktur adalah minimnya alokasi jam pelajaran agama
disekolah umum. Bisa di bayangkan , hanya dua atau tiga jam saja dalam semingu!
Man bisa anak-anak diharapkan menjadi shalih-shalihhah dan berahlak mulia.
Sungguh jauh panggang dari apinya.
Saat siswa
sering bolos , hobi tauran , mabuk-mabukan ,kenakalan yang cenderung
kepadankriminalitas, kerjanya hanya ‘memeras’ orang tua dengan meminta ini itu;
baru saat itu mata terbelalak! Dan hanya mengelus dada serta berusaha mencari
kambing hitam.
Kita harus
memahami adanya hukum sebab dan akibat. Berbagai tindak negatiftersebut
hanyalah akibat yang pasti ada sebabnya. Tidak lain dan tidak bukan, salah satu
penyebab utamanya adalh ‘’jauhnya putera puteri kita dari ilmu agama’’
Lantas
bagaimana menghadapi kondisi mengenaskan di atas?
Bagi para
orang tua yang belum memasukkan anaknya ke sekolah, maka harus selektif memilih
sekolah untuk sang buah hati. Perioritaskan sekolah yang memberikan jam agama
secarapropisional. Seperti pondok pesantren , madrasah, atau sekolah –sekolah
Islam. Dengan begitu , anak tidak harus terkorbankan akhiratnya hanya demi
mendapat ilmu umum (ilmu dunia).
Adapun
anak-anak yang sudah terlanjur masuk ke sekolah umum, maka harus ada kerja sama
apik sekurang-kurangnya antara tiga pihak. Para pemegang kebijakan, parawali
murid, dan para guru. Mereka harus bisa bersinergi untuk memperbaiki keadaan.
Para pemengang
kebijakan berusaha untuk menambah jam pelajaran agama di sekolah-sekolah umum.
Jadikanlah itu sebagai amal jariyah anda sebelum meninggalkan kursi hangat
tersebut. Dengar-dengar, ada upaya untuk menambah jam agama dari dua manjadi
empat. Ini perlu di apresiasi. Lumayanlah, walaupun masih terlalu jauh dari
potret ideal.
Para orangtua
harus kreatif memberikan pelajaran agama tambahan kepada anak. Entah orang tua
sendiri yang mengajar pada anak, atau dimasukkan ke TPQ atau disurau atau di
sering-sering diajak ke majlis ta’lim. Atau disediakan pasilitas pendukung
untuk itu dirumah, seperti radio dakwah atau televisi dakwh.
Menarik untuk
kita perhatikan peristiwa berikut. Konon di pertengahan 60-an, saat seluruh
perhatian tercurah untuk memadamkan PKI, sekelompok peneliti dari Inggris
mendarat di Sumatra Barat. Tugas mereka di Pulau Andalas ini adalah melakukan
penelitian terhadap pendidikan surau. Kalau tidak salah, dua tahun mereka
melakukan penelitian.
Mereka membawa
penelitian itu ke negaranya. Tak lama kemudiaan, sebuah metode di dapat dan di
jadikanpatokan bagi seluruh sistem pengajaran di Inggris. Hebatnya, setelah
itu, metode itu di impor ke indonesia dan kita beli kembali. Namun, tentunya
setelah polesan agama dihilangkan.
Adapun para
guru, maka mereka harus memiliki perasaan bertanggungjawab untuk membentuk
mental para murid, apapun bidang studi yang di mapunya. Jangan pernah mengandalkan
peran guru agama, yang amat minim ruang geraknya. Tiap-tipa guru seharusnya
menyelipkan pendidikan agama di dalam materi pelajarannya. Walupun sekedar
diawal pelajaran atau di akhirnya. Dengan cara itu, diharapkan kurangnya jam
pelajaran agama bisa diminimalkan dampak negatifnya.
Pendek kata,
kita tidak boleh menyerah dengan keadaan yang ada!
Di dalam ayat
pertama surat al-‘Alaq, terdapat perintah untuk membaca di iringi dengan
menyebut nama Allah.
Artinya : Bacalah dengan nama Rabbmu yang
telah menciptakan. (QS al-‘Alaq [96]:1)
Ini memberikan
isyarat tentang pentinganya keterikatan ilmu dengan iman kepada Allah. Ilmu
yang sebenarnya adalah ilmu yang membuahkan keimanan.
Adapun ilmu
yang tidak membuahkan amal, maka itu termasuk ilmu yang tidak bermanfaat,
bahkan justru akan membahayakan pemiliknya.
Rasulullah
SAW menjelaskan:
‘’Al-Qur’an kelak akn membantumu atau
merugikanmu. ‘’(HR Muslim)
Sungguh anak
TK yang tau jalan menuju masjid lebih baik dari pada profesor yang tidak tahu
jalan ke masjid! Semakin berilmu seorang insan, seharusnya ilmu yang
dimilikinya semakin mewarnai perilaku dan ibadahnya. Seharusnya semakin mulia
pula akhlaknya dan semakin tekun ibadahnya.
Rasulullah
SAW mengingatkan:
‘’Kedu kaki seorang hamba tidak akan bergeserdi
hari kiamat hingga ditanya tentang umurnya dipergunakan untuk apa, tentang
ilmunya sudahkah diamalkan, tentang hartanya dari mana didapatkan dan di
pergunakan untuk apa, serta tentang tubuhnya dipergunakan unatuk apa?’’
(HR
at-Tirmidzi dan dinyatakan hasan shahih oleh beliau)
Pernahkah kita
marenung berapa persankah ilmu yang di dapat di majlis ta’lim dan pengajian
yang sudah diamalkan? Ataukah ilmu yang diperoleh sekedar dijadikan sebagai
wacana dan wawasan di kepala kita? Padahal tujuan utama mencari ilmu adlah
untuk diamalkan. Maka mulai detik ini, marilah kita berusaha memperaktekkan
ilmu yang telah kita ketahui sedikit demi sedikit dalam kehidupan sehari-hari.
Entah yang berkaitan tentang aqidah, ibadah maupun akhlak.
Kepandaian dan
keberkahan ilmu seseorang bukanlah dinilai dari banyaknya ilmu yang ia miliki,
namun berapa persen yang sudah di amalkan.
Al-Imam
asy-Sysfi’i (wafat 204 H) menyampaikan petuahnya:
‘’Ilmu bukanlah yang dihapal, melainkan ilmu
(yang hakiki)adalah yang bermanfaat.’'
SEKIAN
DAN TERIMA KASIH