Jumat, 22 Mei 2015

PIDATO SINGKAT ISLAM AGAMA ILMU

ISLAM  AGAMA ILMU

 Segala puji bagi Allah tuhan sekalian alam yang telah memberikan kesehatan, iman dan islam hingga akhir zaman.
Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan alam Nabi besar Muhammad SAW,Kepada keluarga beliau, para sahabat,tabi’in dan seluruh ummatnya yang setia hingga akhir zaman .
       HADIRIN YANG SAYA HORMATI
             Sebagai agama paripurna,Islam memiliki begitu  banyak keistimewaan  dan kesempurnaan.  Di antaranya, Cira khas yang amat dominan dalam ajaran  islam; Islam merupakan agama yang sangat menghormati  dan menghargai  ilmu. Ilmu menempati kedudukan  yang amat tinggi dalam agama kita.
             Karna itu,Tidak  mengherankan bila di dalam kitab  suci kita,Al-Qur’an al-karim,terdapat lebih  dari  750 kata yang berakar dari al-‘ilm. Artinya,bahwa di didalam  Al-Qur’an terdapat lebih 750 kata ilmu  dengan berbagai turunannya.Seperti  ‘alim, ‘ulama’,ya’lamuun, ta’lamuun,  dan sebagainya.Padahal jumlah surah dalam Al-Qur’an adalah 114 surah.
            Bahkan ayat yang  pertama kali yang Allah turunkan kepada nabi kita yang mulia Nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk membaca; “Iqra” sebagai mana telah di maklumi ,membaca adalah salah satu sarana utama untuk mengumpulkan ilmu .Sebab itu, tidak mengherankan bila ilmu menjadi prioritas pertama dan utama seorang muslim  yang harus ia penuhi dalam kesehariannya.
                 Hadirin yang saya  hormati
            Begitu banyak cara agama kita dalam memotivasi ummatnya untuk belajar ilmu. Terkadang dengan mengiming-imingkan bahwa menuntut ilmu merupakan salah satu jalan tercepat menuju ke surga.  Sebagai mana sabda Rasulullah SAW:
“Barang siapa yang meniti jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan untuknya  jalan ke surga”(HR Muslim dari Abu Hurairah RA)
            Dikisahkan ada seorang kake yang datang pada seorang ulama mengeluhkan keadaannya. Kata beliau,”saya rajim menghadiri majelis ta’lim.Namun,Kendala terbesar yang saya hadapi,adalah ilmu yang saya dapatkan terasa begitu cepat hilang.Seakan-akan ilmu yang saya dapatkan selama puluhan tahun ini amatlah sedikit. Apakah lebih baik saya tinggalkan masjlis-majlis ta’lim tersebut? Saya merasa manfaat yang saya dapatkan tidak banyak!”
            Setelah sejenak diam, sang ulama menjawab,”kek,tidakah cukup manfaat yang telah di janjikan oleh Rasulullah SAW?”
            “Apa itu?”
            “Janji kemudahan jalan ke surga bagi mereka yang rajin menuntut ilmu agama!”
“Oohh... Cukup! Bahkan lebih dari cukup! Bukankah surga adalah cita-cita tertinggi setiap insan  ?” Maka setelah itu, si kakek pun semakin rutin untuk menghadiri majlis ta’lim. Sebab, ia yakin betul bahwa itulah salah satu jalan tercepat yang mengantarkannya menuju surga.
           Hadirin yang saya hormati
          Untuk memotivasi para manusia mendalami ilmu agama, Allah ta’ala juga menjelaskan bahwa ilmu itu akan mengangkat derajat pemiliknya. Sebagai mana dalam ayat:
Artinya: Niscaya Allah akan meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu beberapa derajat.(QS Al-Mujadilah 58:11)
           Derajat tinggi itu akan didapatkan seorang hamba di dunia sebelum di akhirat. Banyak contoh realitas yang membuktikan hal tersebut antara lain:
1.       Kisah Ibnuh Abzah rahimahullah
Suatu hari,Nafi’ ibn Abdul Harist mendatangi  Amirulmukminin (Umar  ibn al-Khaththab RA) di daerah ‘usfan (pada saat itu,  Umar tengah mempercayakan kepemimpinan Makkah kepada nafi’).Umar bertanya,”siapa yang engkau jadikan penggantimu-sementera waktu-bagi penduduk Makkah?”
Nafi’ menjawab, “Ibnu Abza.”Umar bertanya, “siapa Ibnu Abza?”Nafi’ menjawab:

Umar bertanya kembali, “Engkau telah memberikan kepercayaan tersebut kepada  seorang budak?” Nafi’ mengatakan:


“Sungguh budak tersebut adalah seorang hafizh (penghafal) al-Qur’an dan sangat menguasai hukum-hukum islam.”
Kemudian Umar berkata :


“Sungguh Nabi kalian telah berkata ,’sesungguhnya Allah mengangkat derajat  sebagian manusia dengan al-Qur’an dan merendahkan sebagian yang lain karenanya.’”(HR Muslim)
2.       Kisah ‘Atha’ibn Abi Rabah rahimahullah
Ibrahim al-Harbi berkata: Seseorang bernama ‘Atha’ ibn Abi Rabah adalah budak berkulit hitam, milik seorang wanita penduduk Makkah. Hidung ‘Atha’pesek  seperti kacang (sangat kecil).
        Suatu hari, Sulaiman ibn abdul malik, sang Amirulmukminin , bersama kedua  anaknya mendatangi’Atha’ yang sedang salat. Setelah selesai dari salatnya ,’Atha’ hendak menyambut mereka. Namun orang-orang yang berkerumunan di sekeliling ‘Atha’ terus saja bertanya masalah  agama kepada beliau tanpa henti sehingga beliau tersibukkan dari  menyambut sang khalifah  . Akhirnya Sulaiman mengajak kedua putranya untuk pergi, lalu ia berpesan kepada keduanya:


“Wahai anak-anakku, jangan kalian lalai dari menuntut ilmu. Sungguh aku tidak akan lupa duduknya kita di hadapan seorang budak hitam (yang berilmu) ini.”
3.       Kisah Muhammad ibn Abdurrahman al-Auqash
Dalam kisah yang lain,Ibrahim al-Harbi berkata:Muhammad ibn Abdurrahman al-Ausqash adalah seorang yang lehernya sangat pendek sampai masuk ke badannya sehingga ke dua bahunya menonjol keluar. Dengan penuh perhatian dan kasih sayang, ibunya berpesan:



“Wahai anakku, sungguh kelak setiap kali engkau berada di sebuah majlis, engkau akan selalu di  tertawakan dan  di rendahkan,  maka hendaklah engkau  menuntut ilmu karna ilmu akan mengangkat derajatmu”.
Ternyata (ia mematuhi pesan ibunya, pen.) Sehingga pada suatu saat dipercaya menjadi hakim agung di makkah selama duapukuh tahun.
Setiap ada oarang yang berperkara duduk di hadapannya, selalu gemetar dengan kewibawaannya hingga sidang selesai.
Ini hanyalah ketinggian derajat di dunian. Adapun di akhirat kelak, maka jauh lebih menggiurkan . Yakni kedudukan yang tinggi yakni di Surganya Allah ta’ala.........
Hadirin  yangberbahagia
        Negeri cercinta kita mayaoritas muslim. Namun, ilmu agama banyuak di abaikan oleh masyarakat. Majlis ta’lim sering sepi, masyarakat berlomba-lomba membangun masjit yang besar dan  megah, namun sepi dari pengunjung (hidup enggan mati  tak mau. Tapi sebaliknya, konser musik selalu ramai  berjubel di penuhi para pengunjung.
       Banyak orang tua yang merasa bangga saat anaknya sukses dapat gelar sarjana di bidang umum, walaupun setelahnya tidak  sedikit yang menjadi pengangguran. Namun,mereka tidak mendukung abila anaknya mengungkapkan untik masuk pesantren  guna mendalami ilmu agama. “Madesu (Masa depan suram)! begitu alasannya.
       Banyak orang tua rela mengeluarkan biaya besar untuk biaya  les ilmu-ilmu  eksak, Namun enggan mendorong anaknya untuk mengaji di TPQ, sekalipun tanpa di pungut biaya!
       Kita harus waspada,  bahwa di negeri tercinta,penggembosan terhadap menuntut ilmu  agama itu di lakukan secara personal maupun masif dan terstruktur.Contoh yg amat kentara yang bersipat tersetruktur adalah minimnya alokasi jam pelajaran agama disekolah umum. Bisa di bayangkan , hanya dua atau tiga jam saja dalam semingu! Man bisa anak-anak diharapkan menjadi shalih-shalihhah dan berahlak mulia. Sungguh jauh panggang dari apinya.
Saat siswa sering bolos , hobi tauran , mabuk-mabukan ,kenakalan yang cenderung kepadankriminalitas, kerjanya hanya ‘memeras’ orang tua dengan meminta ini itu; baru saat itu mata terbelalak! Dan hanya mengelus dada serta berusaha mencari kambing hitam.
Kita harus memahami adanya hukum sebab dan akibat. Berbagai tindak negatiftersebut hanyalah akibat yang pasti ada sebabnya. Tidak lain dan tidak bukan, salah satu penyebab utamanya adalh ‘’jauhnya putera puteri kita dari ilmu agama’’

Lantas bagaimana menghadapi kondisi mengenaskan di atas?
Bagi para orang tua yang belum memasukkan anaknya ke sekolah, maka harus selektif memilih sekolah untuk sang buah hati. Perioritaskan sekolah yang memberikan jam agama secarapropisional. Seperti pondok pesantren , madrasah, atau sekolah –sekolah Islam. Dengan begitu , anak tidak harus terkorbankan akhiratnya hanya demi mendapat ilmu umum (ilmu dunia).
Adapun anak-anak yang sudah terlanjur masuk ke sekolah umum, maka harus ada kerja sama apik sekurang-kurangnya antara tiga pihak. Para pemegang kebijakan, parawali murid, dan para guru. Mereka harus bisa bersinergi untuk memperbaiki keadaan.
Para pemengang kebijakan berusaha untuk menambah jam pelajaran agama di sekolah-sekolah umum. Jadikanlah itu sebagai amal jariyah anda sebelum meninggalkan kursi hangat tersebut. Dengar-dengar, ada upaya untuk menambah jam agama dari dua manjadi empat. Ini perlu di apresiasi. Lumayanlah, walaupun masih terlalu jauh dari potret ideal.
Para orangtua harus kreatif memberikan pelajaran agama tambahan kepada anak. Entah orang tua sendiri yang mengajar pada anak, atau dimasukkan ke TPQ atau disurau atau di sering-sering diajak ke majlis ta’lim. Atau disediakan pasilitas pendukung untuk itu dirumah, seperti radio dakwah atau televisi dakwh.
Menarik untuk kita perhatikan peristiwa berikut. Konon di pertengahan 60-an, saat seluruh perhatian tercurah untuk memadamkan PKI, sekelompok peneliti dari Inggris mendarat di Sumatra Barat. Tugas mereka di Pulau Andalas ini adalah melakukan penelitian terhadap pendidikan surau. Kalau tidak salah, dua tahun mereka melakukan penelitian.
Mereka membawa penelitian itu ke negaranya. Tak lama kemudiaan, sebuah metode di dapat dan di jadikanpatokan bagi seluruh sistem pengajaran di Inggris. Hebatnya, setelah itu, metode itu di impor ke indonesia dan kita beli kembali. Namun, tentunya setelah polesan agama dihilangkan.
Adapun para guru, maka mereka harus memiliki perasaan bertanggungjawab untuk membentuk mental para murid, apapun bidang studi yang di mapunya. Jangan pernah mengandalkan peran guru agama, yang amat minim ruang geraknya. Tiap-tipa guru seharusnya menyelipkan pendidikan agama di dalam materi pelajarannya. Walupun sekedar diawal pelajaran atau di akhirnya. Dengan cara itu, diharapkan kurangnya jam pelajaran agama bisa diminimalkan dampak negatifnya.
Pendek kata, kita tidak boleh menyerah dengan keadaan yang ada!
Di dalam ayat pertama surat al-‘Alaq, terdapat perintah untuk membaca di iringi dengan menyebut nama Allah.

Artinya : Bacalah dengan nama Rabbmu yang telah menciptakan. (QS al-‘Alaq [96]:1)
Ini memberikan isyarat tentang pentinganya keterikatan ilmu dengan iman kepada Allah. Ilmu yang sebenarnya adalah ilmu yang membuahkan keimanan.
Adapun ilmu yang tidak membuahkan amal, maka itu termasuk ilmu yang tidak bermanfaat, bahkan justru akan membahayakan pemiliknya.
Rasulullah SAW menjelaskan:

‘’Al-Qur’an kelak akn membantumu atau merugikanmu. ‘’(HR Muslim)
Sungguh anak TK yang tau jalan menuju masjid lebih baik dari pada profesor yang tidak tahu jalan ke masjid! Semakin berilmu seorang insan, seharusnya ilmu yang dimilikinya semakin mewarnai perilaku dan ibadahnya. Seharusnya semakin mulia pula akhlaknya dan semakin tekun ibadahnya.
Rasulullah SAW mengingatkan:



‘’Kedu kaki seorang hamba tidak akan bergeserdi hari kiamat hingga ditanya tentang umurnya dipergunakan untuk apa, tentang ilmunya sudahkah diamalkan, tentang hartanya dari mana didapatkan dan di pergunakan untuk apa, serta tentang tubuhnya dipergunakan unatuk apa?’’
(HR  at-Tirmidzi dan dinyatakan hasan shahih oleh beliau)
Pernahkah kita marenung berapa persankah ilmu yang di dapat di majlis ta’lim dan pengajian yang sudah diamalkan? Ataukah ilmu yang diperoleh sekedar dijadikan sebagai wacana dan wawasan di kepala kita? Padahal tujuan utama mencari ilmu adlah untuk diamalkan. Maka mulai detik ini, marilah kita berusaha memperaktekkan ilmu yang telah kita ketahui sedikit demi sedikit dalam kehidupan sehari-hari. Entah yang berkaitan tentang aqidah, ibadah maupun akhlak.
Kepandaian dan keberkahan ilmu seseorang bukanlah dinilai dari banyaknya ilmu yang ia miliki, namun berapa persen yang sudah di amalkan.
Al-Imam asy-Sysfi’i (wafat 204 H) menyampaikan petuahnya:


‘’Ilmu bukanlah yang dihapal, melainkan ilmu (yang hakiki)adalah yang bermanfaat.’'



SEKIAN DAN TERIMA KASIH